Sunday, 8 February 2015

Mimpiku bersama #DjakartaYouth

Ya benar... aku memang gadis yang berasal dari kampung yang semenjak SMA meninggalkan kampung halaman untuk merantau demi pendidikan dan masa depan yang lebih baik. Hingga kemudian perjalanan hidupku aku dipertemukan di suatu tempat dimana aku mewakili Ibukota. Suatu kehormatan karena segala curahan hati, ide dari inspirasi didengar dan dianggap. Juga suatu tantangan baru untuk saya bisa mengenal, belajar lebih dekat di Ibukota.
Jiwaku masih setia bersama ku untuk memberikan semangat dan cintanya.
Dimana ada niatdisitu ada jalan, hingga kemudian aku bersama teman-teman di Jakarta menggagas Djakarta Youth Community (Komunitas Pemuda Jakarta)
Penjelajahanku belum selesai dan tidak akan pernah usai hingga aku mati, bahkan ketika batinku merintih dengan keadaan yang aku hadapi sekarang aku masih mau mencoba dan terus mencoba beregerak hingga jalan selanjutnya bisa aku temukan.
Bersama Djakarta Youth Community aku menaruh mimpi untuk Pemuda Jakarta bergerak bersama mencoba melihat tidak hanya sekedar melirik atas segala keadaan yang terjadi di Ibukota. Tidak hanya sekedar mengkritik dan mengeluh tapi juga memberi solusi penuh dan mau bergabung. Bergabung yang tidak hanya sebagai 'formalitas' pernah berkontribusi namun tulus dari hati. Imbalan memang tidak ada, namun bukankah menjadi volunteer itu indah ? Bagiku menjadi volunteer mengajarkanku untuk bersyukur. Ya, sudah dari SMA aku dididik menjadi volunteer dan aku menemukan duniaku yang begitu indah disana.
Keberadaanku di Jakarta bersama Djakarta Youth Community dan aku menaruh mimpi besar disana

Dalam Diam yang Didengar

Tatkala sore itu seusai hujan mengguyur kampung domisili aku saat ini, aku sejenak duduk dan berdo'a dengan penuh harap agar hidup ini bisa aku jalani dengan penuh rasa syukur dan Tuhan mau memaafkan masa laluku.
Aku mengikhlaskan semua masa lalu dan kembali ke jajahan hidup yang harus aku jalani dengan banyak resiko dan tantangan yang aku hadapi. Mungkin ini adalah proses untuk mendewasakan aku dan membuka mata hatiku untuk tidak sekedar melirik tapi melihat dengan hati apa yang terjadi pada diriku ini. Sekilas aku bertanya kepada diriku, untuk apa aku berjalan, berlari, ketika jatuh harus bangun dan terus berlanjut demikian. Bahkan aku juga melihat sekelilingku mereka orang-orang yang aku lihat dengan mulus mereka melewati kehidupan mereka. Atau mungkin hanya pandanganku saja ?
Eksistensi.. Kita butuh eksistensi untuk hidup.
Untuk apa berjalan tanpa tujuan ? Tapi batinku terus bergetar dan memaksa aku berdiri dan tidak mengeluh.
Status di KTP sekarang sudah menjadi anak Ibukota. Namun apa yang sudah aku lakukan ? Apa yang sudah sumbangsihkan untuk Ibukota Indonesia-ku ?
Aku masih mencoba untuk tegar, melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk menjadi orang yang lebih baik demi tanah air tercinta.
Kuanggap perjuanganku sia-sia. Suaraku tak lagi didengar, dan banyak orang yang menggantungkan harapanku (mungkin) dan mengabaikanku.
Tapi, tiba-tiba aku menerima pesan singkat dari salah satu rekan di NTB. Really thanks to her for being notice me and appreciate my work on helping children around Indonesia to reach their best education.
Tuhan, betapa cepat engkau menjawab do'aku,