Monday, 3 September 2018

Fase Menerima Diri


 

Menerima diri sendiri berarti menerima lingkungan kita

Bismillah,

Assalamualaikum

Cara menentukan arah hidup dibagi menjadi dua, yaitu melawan arus atau membiarkan mengalir saja. Tentu, dua hal itu tidak bisa kita gunakan hanya satu; kita perlu melawan arus dan kita perlu membiarkan hidup mengalir begitu saja. Konteksnya, bergantung pada daya peka kita terhadap situasi. Bersyukur kepada Allah, masih diberi banyak anugerah dan hidayah dalam beberapa fase kehidupan yang ditempuh. Banyaknya melibatkan rasa karsa.

Aku baru saja dinyatakan lulus, dengan predikat yang cukup bikin bangga orang tua. Namun sering kali aku bilang kepada diri sendiri bahwa tidak ada pencapaian yang sempurna, ini biasa saja. Semua yang terjadi hanya kebetulan dan keberuntungan. Ya, beruntung… semenjak aku paham makna beruntung, aku sering berdoa agar selalu menjadi orang yang beruntung. Selama empat tahun belajar di bangku kuliah, mengajarkan akan hidup itu tidak sendiri namun kita harus mampu bertahan walau kita ngerasa sendiri. Pada hakikatnya kita ga pernah sendiri, selalu ada Allah. Dan ketika kita melihat lebih dekat lagi, banyak teman-teman yang ada untuk kita. Ketika kita mau menerima diri sendiri, kemudian kita akan menerima lingkungan kita.

Pernah ga kita melihat ke diri sendiri dengan kaca mata cermin? Menyaksikan siapa diri kita dan bagaimana kita telah mencintai diri kita. Berkata pada diri kita, apa kebaikan yang sudah kita lakukan dan apakah sudah kita minta maaf pada sekitar yang mungkin tidak sengaja kita sakiti. Memberi senyum kepada diri kita, yang mungkin kian mendewasa dan melepas ego secara perlahan.

Kita semua memiliki sisi ketidaknyamanan pada diri, sisi gelap yang tidak kita perlihatkan ke banyak orang bahkan orang paling kita anggap dekat dengan kita. Kita menyembunyikannya itu dalam dalam. Kadam bisa timbul menjadi rasa takut kemudian diri menjadi korban, depresi. Aku pernah melewati fase itu. Kemudian singkat cerita, aku bisa bilang bahwa dengan kita menerima diri kita apa adanya itu sudah menjadi obat agar kita bisa terus berjalan dipenuhi dengan rasa syukur. Salah seorang teman tempo hari juga berkata “walau sedih, usahakan selalu ada yang menimbulkan rasa syukur dari momentum sedih itu”. InsyaAllah, berkali kali aku menjalani rasa sedih, tapi rasa syukur selalu kuusahakan sedih.

Fase menerima diri ini, aku mengikhlaskan banyak yang terjadi dalam kehidupanku. Aku menerima juga pandangan segala diri yang dianggap baik oleh orang banyak, walau sebenarnya dianggap orang baik atau orang hebat itu sangan beban. Pernah suatu hari menangis karena ketakutan jika tidak ada yang menerima diri ini ketika tidak lagi dianggap hebat. Setelah menangis, sholat, dan berdoa….tidak perlu sedih ketika kita sudah dianggap tidak berharga lagi. Kalau kita terus-terusan mengikuti definisi orang lain, kita akan lelah. Karena hakikatny tidak ada yang sempurna. Tuntutan untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik akan selalu ada. Jadikan diri kita selalu ada untuk kita kapanpun. Kasian diri kita yang ikut memberi penilaian kepada diri jika itu malah membuat buruk. Syarat bertumbuh, harus disayang dan dirawat sebaik-baiknya. Biarkan diri kita bertumbuh J

            Fase itu kemudian membawaku ternyata ingin lebih dekat dengan teman-teman dan semua relasi yang juga berubah menjadi teman. Semenjak itu, aku usahakan membagi waktu untuk temanku, mendengarkan dan menjadi ada untuk mereka. InsyaAllah.

            Tidak ada yang salah dengan kita memberi target ke diri, atau melawan arus demi kita mendapatkan fitrah kebaikan. Semakin kita bertemu banyak orang, pergi ke tempat baru, dan semakin kita mengenal-Nya ternyata membuatku nyaman dan insyaAllah paham kapan melawan arus dan kapan membiarkan hidup mengalir saja.

            Dalam waktu sehari kita bisa saja mengalami kejadian yang membuat kita sedih, senang, terkejut, dan lain-lain. Bahagia adalah ketika kita bisa mengekspresikan setiap suasana itu. Namun ada beberapa yang ketika terkena sedih, maka hari itu menjadi sedih seluruhnya. Bismillah, ketika kita mau berlatih untuk menerima, menihilkan asumsi, dan mengatur emosi, menurut pengalamanku kita bisa kok bahagia. Karena tidak ada sedih yang sifatnya kekal kan.

            Tahun ini aku ke Eropa, pulang dari Eropa koper pecah dan entah firasat buruk terjadi. Ternyata ketika pulang, ayah di rumah sakit terkena stroke. Dalam masa jet lag aku pulang ke kampung halaman, kemudian melihat semua berdoa untuk ayah disaat ayah berada dalam titik terendahnya. Aku tersenyum, dan rasa peka ku membuatku mengerti sekeliling yang bertanya-tanya kenapa aku tersenyum. Sekeliling yang bertanya-tanya kenapa aku tenang. Aku kala itu, sedang menerima keadaan pun mengajak ayah untuk ikhlas. Dan banyak keajaiban yang terjadi ketika kita ikhlas, termasuk Allah memberi kesembuhan untuk ayah. Alhamdulillah.

            Aku adalah perempuan dari kampung, yang sering ketika pulang kampung kadang ada saja yang bikin hati pedih. Sulit untuk hati seketika harus menerima, memaafkan, memaklumi, dan tegas harus berjalan dengan senyum, Pernah kala itu yang ada jatuh sakit, karena lelah mendengar banyak omongan. Namun, sadar atau tidak jika kita bisa mengontrol dan menyaring apa apa saja yang berhak masuk ke hati pikiran kita, semua akan baik-baik saja kok. Tidak ada yang salah dengan memaafkan, tidak ada yang salah dengan memaklumi, dan tidak ada yang salah dengan mendengarkan. Ikhlaskan saja….

Jatinangor, 03 September 2018

Sayap Kecil

Monday, 20 August 2018

Menjeda #ntms

"Tenang, kamu masih punya sosok yang setia menemani. Yaitu dirimu sendiri, jadi tetap kamu tidak akan sendiri" -anropika-

"Ketidaksempurnaan selalu ada pada dirimu, meskipun mereka bilang kamu sempurna." -anropika-

"Tidak mungkin kamu tidak bisa tanda dia, tidak mungkin kamu tidak bisa ketika satu kesempatan hilang." -anropika-

"Aku bisa berjalan mundur. Tapi saat ini aku memilih untuk bertahan." -anropika-

"Aku bukan berjalan mundur. Aku menjeda." -anropika-

"Berhenti mencari apa yang tidak ada. Karena yang ada perlu kamu cari lagi, lebih dalam." -anropika-

"Tidak untuk dirasa, tidak untuk diterkna makna. Cukup dijalani. Sudah. Akan baik-baik saja." -anropika-

"Jadi begini, aku disini menunggu akhir pekan. Menunggu senyum bahagiamu yang aku amati lewat media sosial." -anropika-

"Ibumu kuat nak, tapi percayalah ibumu tidak baik-baik saja. Dia berusaha menampakkan dirinya kuat, dia berusaha untuk menyembunyikan segala ketidaknyamanan, dia berusaha melawan musuh terbesar dan nampaknya dia kuat. Peluk ibumu, agar dia benar-benar kuat." -anropika-

"Menunggu tidak salah, bersabar juga tidak salah. Tapi kamu harus sadar ada sosok yang menunggu dan bersabar untuk kamu." -anropika-

"Bagaimana jika dia datang kembali? Sholatlah, kemudian dengarkan suara hatimu." -anropika-

"Bagaimana jika dia tidak percaya lagi ke aku bu? Kamu harus percaya pada dirimu." -anropika-

"Petuah nenek, pelan-pelan asal sampai. Mungkin juga bisa kugunakan, wujud sikap doa ku untukmu." -anropika-

"Perempuan memiliki cahaya, laki-laki bercermin pada perempuannya." -anropika-

"Senyummu manis, matamu sejuk, candamu menghibur. Ya, kehadiranmu mendamaikan." -anropika-
 

Wednesday, 18 July 2018

"Everyone Deserves for Their Second Chance, You Too"



Life Cycle Depends on How You Builds in/with
Tulisan ini kepikiran ketika ngerjain tugas akhir di tempat makan, tengah malem. Maafin banget kalau keliatannya aku jadi orang bijak seketika.

Jadi gini….

Sering banget akhir-akhir ini dapet curhatan mengenai ‘pernikahan’. Well, ga bisa dipungkiri kalau ini sudah menjadi sensitif isu bagi kalangan anak muda sekarang. Sebenernya sensitif tidaknya itu bergantung pada anak muda itu sendiri. Ada temen yang tiba-tiba agak mengurung diri dan sendiri aja karena temen-temennya udah pada ada calon misalnya. Some of  them mengurung diri karena ga mau dapet ‘boomerang’ kalau diskusi ketika nongkrong yang dibahas adalah nikah.

Sering juga sebagai mahasiswa tingkat akhir aku juga dapet curhatan tentang bagaimana mengerjakan tugas akhir disaat yang lain sudah wisuda dan pun ini bisa jadi boomerang. Al hasil, some of them kayak gugup. Meskipun ya banyak juga yang jadi terpacu semangatnya ketika ada kawannya yang sudah step ahead.

Atau

Ketika beberapa dari kalian yang tetiba minder sama temen sendiri karena misalnya si temen sudah achieve pekerjaan yang ‘baik’ atau temen lolos konferensi kemana gitu. They pursuing what they want, but the time said not yet.

Bahkan

Ketika sudah bekerja namun, konon gaji tidak sesuai dengan pekerjaan yang diberikan. Harus menaruh ‘banyak muka’ sehingga membuat kita tidak menjadi diri sendiri. Bingung memposisikan idealis yang dimiliki. Pernah mengalami?

Me acts as an (silent) observer. will try to deliver my views

Gini, aku coba kasih pandanganku mengenai kasus itu dan umumnya agar kita lebih pede sama siklus yang kita jalanin. Semoga bermanfaat ….

1.      Keep sharing. Pertama, kita harus berbagi cerita yang kita rasakan kepada siapapun. Even kita cerita kepada diri sendiri, kalau kita memang mengharuskan itu menjadi rahasia diri sendiri saja. Atau entah hanya satu orang saja yang menjadi tempat kita mengeluarkan uneg-uneg, itu harus ada. Entah kepada orang yang dikenal atau tidak dikenal. Bebas. Jangan dipendam ya J

2.      Keep valuing. Coba kita tetap menghargai. Kita hargai jerih payah kita ketika kita mencoba memperbaiki diri tetapi kita belum waktunya mendapatkan jodoh. Menghargai diri sendiri ketika kita kerja lembur berjuang di akademik. Menghargai orang sekitar yang mereka masih ada untuk kita ketika kita sering melupakan mereka. Menghargai mereka yang merendahkan kita, karena itu bentuk perhatian mereka ke kita. Menghargai keluarga yang senantiasa mengirimkan doa dimanapun mereka berada. Menghargai kesempatan yang belum dimiliki karena masih banyak yang belum tahu mengenai kesempatan itu. Kita masih diberi waktu, akses, fasilitas yang mendukung kita untuk melihat dunia. Hargailah terlebih dahulu.

3.      Negosiasi kepada diri sendiri. Tahu sebab akibat. Analisis lagi. Hal apa yang musti kita perbaiki/pelajari. Sikap bagaimana yang seharusnya kita tunjukkan sebagai respon.

4.      Stabil. Membentuk pola diri. Paham kapan tegas kepada diri dan sekitar.

5.      Tarik napas. Get away, listens to your own. Faktanya kita tidak bisa menyamakan frekuensi orang lain adalah sama terhadap frekuensi kita. Kita tidak bisa membandingkan jalan hidup kita harus semestinya sesuai dengan rencana kita. Loyal terhadap waktu dan fleksibel terhadap respon yang kita lakukan. Manusia berdinamika. Yang baik tidak selamanya baik dan yang buruk tidak selamanya buruk. Manusia pasti ada sikap cacatnya. Hargailah. Terima. Everyone deserves for their second chance, you too.

6.      Social influence. Mulailah dari diri sendiri bagaimana kamu ingin menjadi dan bagaimana lingkungan yang kamu harapkan, mulai dari diri sendiri. Tetap harus berani tapi harus dibalut dengan sikap lembut dan ramah.

 

Nah itu mungkin sedikit bisa menjadi renungan untuk kita semua. Karena bagaimana cara kita memandang itu menentukan sekali agak siklus hidup yang akan atau sedang kita jalani. Kita yang paham tentang diri kita, jadi kita yang paham bagaimana sikap untuk membentuk diri kita. Yang kita suka kaget diawal ketika baru ‘pengalaman pertama’ merasakan cases dalam hidup. Tidak apa kaget. Sikap kita yang mendewasakan diri kita. Terima perubahan, termasuk perubahan yang ada pada diri kita juga lingkungan.

Saturday, 6 January 2018

Menjadi perempuan, 

sedikit banyak mendengar kajian perempuan adalah paling banyak menjadi penghuni neraka selanjutnya 
Salah satunya karena sikap lengah menjaga aib suami 
Perempuan yang begitu empuk ketika hati menjadi sasaran 
Yang tak lekang goyah kepercayaan terhadap pasangan dan Tuhan-Nya 
Perempuan dengan pelan-pelan merasa 
Perempuan dengan setia berdoa dan menunggu 
Senantiasa memperbaiki diri dan menengadah, semoga Allah SWT membuka pintu maaf, membimbing setiap langkah, dan menunjukkan siapa-siapa yang baik untuk menjadi lingkungannya. 
Yang Maha Kuasa-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati 
Boleh jadi mereka yang cinta sama kita tetiba esok hari benci sama kita, boleh jadi sebaliknya 
Tidak ada yang abadi, karena telah disebutkan pula bahwa di dunia ini sifatnya fana 
Seringkali perempuan cemas, namun berdoa harus berani... termasuk berani melepas. Melepas dengan ikhlas. 

Kita rendah dihapan-Nya
Ya Allah, begitu banyak tantangan untuk menunjukkan rasa cinta kepada-Mu
Sering hati bimbang, ucap dan tindak dalam khilaf
Ketika manusia menilai, sesungguhnya baik dan buruk hanya Engkau yang Mengetahui

Thursday, 12 October 2017

Aku kembali menulis, setelah 1 tahun lebih tak kualunkan jemariku. Aku kembali menulis, seperti biasa ya karena dengan menulis aku bisa menjadi aku. Segala yang ingin kutuangkan, kukatakan, dari dalam hati tertuang dalam goresan kalimat.

Setahun belakangan kulalui beberapa hal dalam kampus kehidupan ini. Hal yang paling saat ini aku incar adalah kesetiaan, teman setia, sahabat setia, dan diri yang setia dengan diri sendiri. Setiap napas kehidupan aku yakinkan kediri sediri bahwa 'sendiri tak mengapa'. Menjadi daya ukur keberanian seseorang jika mampu berjalan secara mandiri, mandiri, namun juga masih memiliki rasa peduli, rasa kasih, rasa cinta.

Cinta.. adalah kebahagiaan. Cinta bukan perkara musibah yang membuat kita terengah-engah, melainkan anugrah yang menjadikan hidup kita semakin berkah.

Aku menulis, tanpa memikirkan para pembaca akan menyukai atau tidak. Selera itu relatif. Aku menulis untuk kebahagiaan yang dimulainya dari diri sendiri. Kalau diri sendiri kita belum bahagia, bagaimana membahagiakan orang lain?

Aku menulis, untuk jejak. Agar kelas anak-anakku bisa membaca kembali dan mengambil hikmah cerita dari pengalaman ibunya. Aku menulis, karena aku yakin tulisan adalah obat dan senjata. Obat ke diri sendiri sekaligus menjadi senjata bagi yang membacanya.

----

Wednesday, 11 October 2017

Lama tak bersua
Hening kembali tercipta
Renungku berlalu begitu saja
Anganku pun semakin terlihat tak bersuara

Kuhempas dan kusembunyikan rasa rindu
Terdiam dan semakin lama malah menggebu
Inginku hilang rindu itu bak debu
Namun apa daya jika masa lalu tak bisa berlalu

Bertemu sosok baru kukira akan menjadi obat
Namun rasa sesungguhnya semakin keramat
Ku tahu kau pun hanya bodo amat
Lantas sampai kapan cerita ini tamat?



Jatinangor, 12 Oktober 2017
Pika

Sunday, 25 September 2016

Ketika Dilakukan dalam Sekali Dayung

Selanjutnya, semenjak tahun kedua kuliah rutinitas pagi berangsur tersusun rapi. Saya ambil kerja sampingan disamping kegiatan kuliah dan organisasi. Awal mula adaptasi dengan kegiatan yang bersamaan tersebut butuh kerja keras, sempat beberapa diagnosa sakit menerpa karena pola hidup masih berantakan. Atau yang tiba-tiba demam ketika malam hari, dan mimisan ketika pagi hari sudah tidak menjadi hal yang mengejutkan. Mulai diagnosa ISPA, jantung, alergi dingin, hingga asam urat yang wajarnya itu adalah 'penyakit tua'. Bak tusukan jarum dari dalam ketika sedang kambuh. Ahhh, yang paham asam urat pasti tau lah ya. Pelajaran yang ambil pada tahun kedua kuliah, ambisius yang menyetir perjuangan hidup hendaknya dilengkapi dengan pola yang baik pula hingga selanjutnya kita bisa menjadi teladan yang tidak hanya peduli dengan lingkungan sekitar, namun juga peduli dengan diri sendiri. 

Semester 3 dan semester 4 nilai IPK meningkat walau tidak melejit. Secara berkala dan berproses pula. Sempat mengeluh, bingung, dan akhirnya harus menyiapkan strategi untuk menghadapinya. Yaps, masalah hakikatnya memang datang dengan solusi, ketika sadar hal itu dalam keadaan panik pun kita menjadi tenang. Sangat bersyukur keadaan berangsur membaik. Teringat ketika semester awal yang sempat hanya menganggarkan Rp.5000,- untuk makan per hari dan dengan fasilitas kamar kosan yang sangat minim dan kegiatan yang banyak. Kawan sejawat menyuruh saya untuk menjebolkan kisah ini menjadi buku (been thinking hardly to make it come true)

.........

Ketika Dilakukan dalam Sekali Dayung 


"Pika, kumaha damang? Kemana wae atuh?"

Pertanyaan yang membuat saya semakin bertanya kepada diri sendiri, ohh berarti selama ini saya pergi ya. Padahal saya masih disini saja. Terlebih saya masih juga bertemu dengan banyak orang. Mungkin mereka yang menanyakan seperti itu adalah yang memang menantikan kehadiran saya (kembali). Kehadiran seperti apa yang diharapkan?
*Di Jatinangor saat ini hujan, saya semakin menikmati menulis ini*

Dosen kampus saya pernah berkata, hakikatnya manusia itu dinamis sifatnya dan memiliki jati diri lebih dari satu. Jati diri sesungguhnya adalah ketika kita sendiri.  

Setuju? 

Pernyataan seperti itu kemudian berubah dari pertanyaan kepada diri sendiri. Apakah saya mengalami dinamika? Dinamika yang saya buat skenario sendiri atau datang secara alami? Dinamika itu datang dari mana. Well, I'm trying to be a (good) thinker. 

Banyak waktu yang saya habiskan untuk bekerja, bertemu dengan teman dalam suatu organisasi, bertemu relasi, calon klien, klien, bertemu keluarga, dan dalam waktu yang bersamaan saya penikmat suasanan perjalanan dalam berkendara entah itu naik kereta, bis, atau yang lainnya. Sebelum dan setelah bertemu orang saya selalu berpikir mengenai jati diri kepada masing-masing orang dan bertanya siapa yang mau menerima jati diri saya sesungguhnya? *silakan dijawab* 
Semua terangkum dalam detik yang tak terasa detik berubah berubah menjadi hitungan hari. Membicarakan mengenai hakikat dinamika bukanlah suatu hal yang tuntas seketika ketika dibahas. Orang yang awalnya baik kemudian bisa berubah menjadi jahat, kita tidak bisa menjamin keberadaannya. 

Saya rasa sosok yang mau menerima jati diri kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Sehingga sangat disayangkan ketika diri kita berbuat salah kita tidak mampu menerimanya dan tidak mau memperbaikinya. Lantas kita biarkan saja hidup dalam raga tanpa jiwa. 

Merudung kabar gembira dan sedih dalam satu waktu, dan tidak dituntut kita untuk mencampur adukkan perasaan gembira dan sedih dalam tempat yang berbeda. Sering kita sebut, profesionalitas. Namun, tak bisa dipungkiri kita butuh sandaran bahu untuk mendengarkan peluh dan membangkitkan nilai positif dalam prinsip kehidupan. Karena kita bukan robot, kita memiliki hati yang selalu memainkan perannya. Tugas kita adalah membiarkan hati itu bermain dengan perannya dan mengontrolnya. 

Ahh, waktu berjalan begitu cepat. Seakan sudah lama tak berjumpa, satu orang, dua orang, tiga orang mulai menanyakan kabar. Dan beberapa mengirimkan pesan kabar. 

Pengalaman penolakan tidak hanya sekali dua kali, bahkan pun karena asumsi orang yang mengatakan bahwa saya sibuk. Sebenarnya sibuk bukan alasan, sibuk kalau dari kita bisa memprioritaskan pekerjaan selesai. 

Ketika dilakukan dalam sekali dayung, antara mencari nafkah untuk hidup, kuliah di kampus, dan organisasi di universitas kehidupan akan banyak resiko yang dihadapi. Pun bisa jadi kesehatan menjadi resikonya atau bahkan waktu luang bersama keluarga kurang. Bahkan, kita dituntut berpikir dalam setiap detailnya ketika mata mulai terbuka pertama dari bangun tidur. Lantas, menurut saya disini kecerdasan emosional yang mulai dilatih. Bagaimana mengontrol emosional, menjaga diri agar bisa disukai banyak orang, bisa menjaga rahasia teman, juga mencintai diri sendiri. 




Sekian, 

Sayap kecil 
25 Sept 2016 15.19 WIB

Wednesday, 15 June 2016

Baju Lukis Unik dan Nyaman Dikenakan



Hallo good people!
Saat ini dunia semakin menjejaki ke era modern yang serba canggih dan semakin kreatif. Dari sepatu lukis hingga baju lukis sekarang sudah menjadi hasil kreasi para pelaku UKM, mas Djarot lukis salah satunya. Motivasi pertama membuka usaha baju lukis ini diawali dari pengamatannya bahwa baju merupakan pakaian yang multi fungsi dan konsumen selalu mengikuti era dalam minatnya, mereka selalu ingin suatu yang unik, baru, dan kreatif. Bahkan baju yang dilukis bisa menjadi media untuk mencurahkan seni dan menyampaikan makna keindahan.

 Foto diambil oleh Ceu Dien pada Rabu, 15 Juni 2016
Seperti namanya, baju lukis adalah baju yang terdapat desain lukisan pada baju tersebut yang dibuat dengan cara manual dan bantuan airbrush. Yang memberdakan baju lukis ini dengan baju sablon tentunya terletak pada teknik pengerjaannya. Sedangkan untuk cat atau bahanpembuatan desain, kaos lukis juga sering menggunakan cat non rubber. Tidak mau kalah, kaos lukis juga menampilkan desain menarik dan unik seperti baju sablon, baik berupa tulisan, gambar, sketsa wajah, karikatur lucu, dan lainnya. Dengan teknik yang penuh gerakan jari seni ini hasilnya tentu sangat terkesan mewah dan berkualitas. Cat yang digunakan pun juga tidak luntur dan tahan lama. Tekstur dari baju ini tidak rata seperti hasil sablon dan tidak menggumpal pada bagian lukisannya. Sangat anggun dikenakan dan nyaman tentunya.  
 Foto diambil oleh Ceu Dien pada Rabu 15 Juni 2016
Meskipun dibuat dengan teknik  yang dikatakan cukup rumit yaitu melalui melukis manual dan banyak membutuhkan waktu, untuk perawatan baju lukis ini sama sekali tidak rumit dan tidak jauh berbeda dengan baju sablon atau lainnya. Namun biasanya untuk menjaga lukisan agar tetap awet, hindari menyikat pada bagian gambar ketika mencuci dan juga jangan menyetrika pada bagian gambar. Trik ketika menyetrika sebaiknya baju dibalik terlebih dahulu sehingga baju tetap tidak kusut dan terlihat tetap rapi.

Baju lukis ini cukup mudah kita dapatkan, terutama di daerah Bandung. Biasanya dijual sekitar 150 ribu hingga 200 ribu per biji. Cara mendapatkannya pun sekarang sudah bisa online karena memang kreativitas harus mengikuti perkembangan zaman di era digital ini bukan?
Foto diambil oleh Ceu Dien pada 15 Juni 2016

Salah satu pengusaha yang saya percaya hasil juga kualitasnya di baju lukis ini adalah mas Djarot. Prioritas utama saya selain keindahan dari baju saya juga sangat  mempertimbangkan bahannya nyaman untuk dikenakan dan saya sangat betah mengenakan baju lukis hasil karya mas Djarot ini. Lokasi pembuatan baju lukisnya di daerah Banjaran, Bandung, Jawa Barat. Mas Djarot melalui jari kreatifnya juga membuat desain lain sesuai dengan permintaan kita, seperti sketsa wajah dan gambar lainnya. Sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman yang suka dengan kreativitas dan keunikan. Pas banget apalagi kalau kalian mau memberikan hadiah kepada ibu, adik, keluarga, atau teman. O ya, kalau mau menghubungi mas Djarot bisa langsung ke facebooknya ‘Mas Djarot Lukis’ atau via WhatsApp di +62852-2425-7897.

Let’s having original ideas which have values.  
Have a great day good people!

Cheers

Monday, 9 May 2016

Tangan Tuhan masih 'Bekerja'


Saya coba sekali lagi, dengan segala upaya kemudian saya mengatakan saya berhasil kali ini. Meskipun yang terpampang nama saya tidak disebutkan. Tapi Tuhan membisikkan kebahagiaan.

Lelah, tapi prestasi baru sudah saya buat. Berani melawan ketakutan dan menantang untuk melampaui diri. Saya menangis namun percayalah saya baik-baik saja. Karena air mata ini menjadi titik langkah awal kembali dengan energi yang positif, baru, dan lebih mantap kemana arah yang seharusnya tertuju untuk masa depan di dunia ini.

I’m a young lady, officially turned into 2* years old in this 7th May 2016. (Aaaakkkk tua. hahaha)

Saya mau mencoba menulis segala hal yang saya rasakah, alasan melangkah maju atau mundur, atau bahkan berhenti sejenak. Apa yang saya tulis bisa jadi orang yang membaca pernah atau sedang mengalami hal yang sama dengan saya, dan percayalah bahwa apa yang kita jalani saat ini bukan ‘too much’ God always said that it is ‘enough’ for us. Jangan ragukan itu. Jangan malu ketika mengeluarkan air mata di depan orang lain, tapi tetaplah pasang jiwa ‘pantang menyerah’ dalam hati kecil, as a fuels, life booster, and the power indeed.

Lama sekali saya tidak bercerita, mau menceritakan namun takut ini terlalu pribadi untuk diceritakan. Saya akan memulai dari refleksi saya dua tahun terakhir, tantangan dan fever pitch.
1. Saya bertemu banyak sahabat dari Sabang-Merauke semenjak tahun 2013. Mengajarkan saya bahwa ternyata ada loh ‘saudara ketemu gede’ itu. Pribadi SMA saya yang agak pendiam dan tertutup perlahan mulai bisa dan berani untuk berkata, berpendapat, bergerak, dan tentunya lebih berani untuk menjadi diri sendiri.
2. I’m a student and I’m a freelancer. Saat ini masih kuliah semester 4 di Universitas Padjadjaran dan sebagai digital marketing dari UKM2 di Jakarta
3. Soon to be creative-sociopreneur! Apa ya? Jadi saya sudah mulai belajar untuk menjadi penjahit, dari uang gaji saya mengumpulkan modal untuk mulai wirausaha
4. Enggak minta uang ke orang tua. Some this might sounds great, karena menjadi mandiri bisa jadi idaman. However, saya mandiri berawal dari keterpaksaan untuk melampaui diri, bertahan hidup di tanah rantauan, dan agar tetap bisa menjalankan passion untuk berbagi. Thanks a lot untuk para kakak2 yang ketemu gede, kak Windi, kak Isra, kak Depay, Teh Rina, kak Rita, kak Teguh, kak Vino, kak Agustina, bg Az, kak Dini Fitria, dan kakak2 lainnya yang menjadi penguat dan memberikan power tersendiri untuk selalu ‘move on’ (pindah) dalam artian perasaan, mimpi, karya, dsb. Para mentor kece dari Sahabat Pulau dan GMB ^^
5. Finally, saya berhasil untuk berani berkata ‘NO’ atas beberapa tawaran. Sangat penting menurut saya ketika kita berani tidak berarti kita berani pula untuk memertahankan apa yang harus kita pertahankan untuk menjadi prioritas. Singkatnya ditawari jabatan dalam organisasi di kampus. Sebaliknya, jika kita sudah berkata 'YES' we should know that we need to keep our commitment, consistency, and consequences. Kita bebas memilih, orang bebas memberikan saran. The one thing that we need to know, jangan lupa untuk melibatkan hati kecil dalam pengambilan keputusan, even keputusan yang penuh dengan logika sekalipun. I’m a great believer, bahwa hati kecil tidak pernah salah.
6. I’m ready. Yaps, setelah sekian saya berhenti sejenak, merenungi dan mencoba menggambar masa depan mau seperti apa, saya harus lebih siap ‘kembali ke kulit’. Alhamdulillah, saya sekarang jauh bisa mengenal diri saya, berikut kapasitas saya sehingga saya tidak sembrono dan asal bilang ‘iya’ ketika diberi tugas atau amanah. Hehehe
7. Organisasi dalam kampus? Duhh, saya kupu-kupu nih :p Tapi tidak apa kita menjadi kupu-kupu sekarang, asal kita tahu langkap untuk memilih, toh bisa jadi gaya ngampus kita adalah strategi kita raih cita-cita bukan? Waktu senggang saya gunakan untuk pelatihan intens via online, sepeti tentang public speaking, bahasa ingris, menjahit, bertemu teman dan bekerja. Hehehehe
8. Tiga client saat ini. Alhamdulillah
9. Fokus untuk selanjutnya : Bisnis (to upgrading both my personally and professionally skills), apply for exchange (dengan lambang Garuda dan atas nama Indonesia), volunteering (cause I’m passionate in community development) dan kuliah (kuy, cepet lulus deh mbak Pika)

(to be continued)


Sunday, 3 April 2016

Kenapa Ibu Rumah Tangga?

Singkat cerita
..........
Encouraging para ibu rumah tangga itu ada adalah salah satu mimpi saya. Kenapa saya daftarkan dalam salah satu daftar mimpi?
Termotivasi dari pengalaman pribadi, kekerasan keluarga ketika kecil, saya ingin perempuan itu menjadi ibu yang mandiri. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan peran seorang imam (dalam hal ini suami). Tidak. Mandiri dan ingat kodrat (posisi perempuan). Lihat, para istri rasul.. Khodijah misalnya. Seorang perempuan pengusaha yang mandiri dan bisa patuh serta taat pada imamnya. Bukankah kita juga wajib meneladani kehidupan rasul?
Feminis? emansipasi?
Bukan. Hanya mau membuktikan dan berusaha menunjukkan bahwa memang alqur'an itu sudah mengangkat derajat perempuan. Saya pernah memiliki cita tidak ingin menikah, bergerak di dunia karir saja, tidak percaya dan tidak mau percaya dengan ikhwan. I were in that position.
Pergi (melarikan diri untuk hijrah) kesana kemari untuk menghibur diri. Tapi ternyata saya menemukan hidayah yang begitu besar untuk diilhami dan renungi.
Alhamdulillah
Sekarang saya mulai paham mengapa menikah itu ibadah. Dan mendukung para ibu rumah tangga untuk bergerak mengarungi sembilan dari sepuluh pintu rejeki (pengusaha) mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal bagi saya.
Semua ini saya rasakan sebagai keajaiban dari apa yang kelihatan di kepala ini, jilbab yang menuntun jalan berpikir, hati yang melengkapi dan pengingat ketika salah.
Barakallah untuk kita semua :)


Jakarta-Bandung, 03 April 2016
Love,
Sayap kecil

Tuesday, 1 March 2016

Melati dan Cermin

Ternyata Tuhan sangat cepat mengabulkan do’a si Melati. Bahkan berikut dengan kemungkinan terburuk Tuhan sudah menyiapkan sandaran untuknya.. Hiburan dari hati untuk diri sendiri bak buaian semata dan hanya sebagai pengalihan sementara. Faktanya sosok cermin itu sekarang sudah menemukan pelabuhan untuk hatinya. Kala mendengar berita itu Melati tak menangis, namun badan rasa ngilu dan menggigil. Kali ini Melati ingin menyampaikan dari sesungguhnya hati yang dengan air mata ikut menyelimutinya. Air mata bahagia atau sedih, dia tak tahu hanya sekarang dan dan berusaha netral saja agar tak ada yang tersakiti satu sama lain.

Sang Pencipta menciptakan malam dengan segala keistimewaannya. Sunyi dan senyap yang menjadi saat tepat curahan hati. Sepertiga malam disaat masih banyak yang terlelap, Melati sibuk berbisik dengan kata hatinya.

Melati ternyata mulai merasakan arti kehilangan….

Menerima itu mudah. Terlarut dalam sedih atau bangkit adalah sebuah pilihan. Menangislah dan dekap semua dalam do’a lalu bangkit”

Jika jatuh cinta adalah sebuah pilihan tentunya Melati tak akan memilih tuk jatuh cinta. Namun (mungkin) jatu cinta datang secara alamiah, tiba-tiba karena beberapa alasan. Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri (katanya). Benarkah? Mungkin itu juga yang menjadi alasan para muda mudi “menyerah” menghadapi hidup.

Melati ternyata mulai merasakan arti kehilangan…. Allah yang Maha Mengetahui dan segala kan indah pada waktunya. Pun disaat kehilangan kita akan menemukan suatu hal yang lebih indah.


Semangat Melati! 

Jatinangor, 01 Maret 2016

With love,
Sayap kecil



Wednesday, 24 February 2016

Saturday, 13 February 2016

"Dan keajaiban itu kembali terjadi....."

Dibayarpun tidak, dihargai belum tentu, dicaci bahkan menjadi sapaan harian. Lantas kenapa masih bersikukuh menjadi relawan?

Hampir 21 tahun saya bernapas di bumi, banyak jatuh dan bangun yang seyogyanya manusia hidup pasti mengalaminya. Ketika berteriak tak didengar, berjalan tak disapa, senyum tak dibalas dan air mata menjadi bahan tawa. Menengadah di sepertiga malam menjadi waktu curhatan hati. Jauh di desa saya berasal hingga sekarang ibukota menjadi saksi terwujudnya "pelampiasan" ini.
Dua minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman. Tiga hari saya habiskan berdiam diri di rumah selain silaturahim ke sekolah kemudian pergi ke tempat lain. Menjadi trauma tersendiri ketika keluar rumah. Saya harus menjaga kepribadian yang sopan dan santun bak perempuan Jawa yang harus ajeg dengan tata krama. Saya memilih menjadi perempuan polos yang seolah-olah tak tau apa-apa. Yang saya tanamkan dalam benakku saat itu bagaimana saya bisa mengubah status keluarga menjadi lebih baik dan mengangkat derajat dunia akhirat.

Tapi apalah daya, saya selalu merasa bahwa saya masih 'anak kecil' yang susah sekali untuk didengarkan yang harus menghapus rasa benci didetik itu juga. Namun menjadi momen yang sangat mengajarkan untuk bersyukur karena hal ini yang menumbuhkan keberanian dalam hati.

Asumsi orang terkadang meracuni pikiran. Dikira mereka di tanah rantau saya berleha-leha setiap harinya, tak memikirkan orang tua bahkan terbesit tuk pulang ke kampung halaman. Bahkan jika mereka mengetahui hal yang sebenarnya saya harus mencari recehan untuk pulang kampung dan kembali ke tanah rantauan. 'Ahh, tapi ini sudah wajar tuk dilakukan perempuan desa yang pergi dan harus kembali dengan segala kemandirian'.

Saya kembali ke tanah rantau, berharap dengan senyuman namun ternyata masih saja ada air mata.

------------------------------------

Tenang dan damai...

Ketika mempunyai masalah mendekatlah kepada Sang Pemilik solusi dari masalah tersebut.
Apa kabar beasiswa?
Topangan makan sehari-hariku dari uang beasiswa. Sadis, 44 mahasiswa di kampus saya belum cair uang beasiswanya. Saya makan bagaimana? Foto kopi buku? Komitmen di kegiatan sosial yang saya ikuti?
saya ikut kepenulisan dan apply beberapa lowongan freelance semua ditolak. Mungkin saya terlalu gegabah saat itu. Sikap introvert menuntut untuk segera menyelesaikan kemudian menceritakan. Sepertiga malam menjadi saat saya banjir air mata dan berdo'a

"Ya Allah, engkau Sang Pemberi rejeki kepada hambamu. Saya kuliah niat untuk belajar bekal dunia akhirat dan bermanfaat bagi bangsa, agama. Hamba tidak mau menyusahkan apalagi menambah beban orang tua dengan hamba kuliah. Hamba berusaha mencari beasiswa dan alhamdulillah dapat namun saat ini belum cair. Hamba ikhlas dan terimakasih kepada-Mu karena selalu memberi kesempatan mencari solusi. Semoga disegerakan hamba menemui solusi untuk topangan makan sehari-hari juga pendukung kegiatan sosial hamba."

...... Dan keajaiban itu kembali terjadi.

Ajaib! H+2 setelah saya berdo'a, Allah langsung mengabulkan. Ada malaikat yang dikirimnya ke bumi dan meminta saya untuk membantu sebuah usaha yang beliau rintis. Tanpa CV, tanpa essay, bahkan saya belum mengenal beliau. Kemudian kita bertemu dan bercerita. Semua apa adanya, saya menceritakan apa yang saya mampu untuk lakukan namun saya memiliki banyak catatan untuk upgrade banyak kemampuan lain. Syukron kepada Allah SWT, benar ternyata ketika hati tenang, fokus solusi, perbaiki niat dan kepribadian segala dipermudah oleh-Nya. Beliau memberi kesempatan saya untuk belajar dengan bergabung di usaha yang beliau rintis. Menjadi bekal ilmu untuk saya menjadi pengusaha.

------------------------------------

1. Senyumin aja
2. Jika ada tawaran kerja, ambilah
3. Perempuan harus mandiri
4. Kamu sudah dewasa sekarang
5. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya, kamu akan tahu ketika kamu menjadi ibu kelak

Beberapa pesan yang saya rangkum dalam benak pikiran dari guru SMP yang sudah seperti ibu sendiri. Silaturahim ke SMP memberikan kebahagiaan tersendiri. Saya sangat diterima dengan baik dan sangat luar biasa para guru masih ingat dengan budaya sholawat setiap pagi yang saya pimpin dalam kelas.

"Selau perbaiki akhlak, ndok. Karena pintar saja tidak cukup. Jangan lupa ucapkan istighfar dan sholwat setiap perjalanan. Ucapkan dalam hati saja, InsyaAllah mampu menjadi obat. Membaca al-qur'an jadikan sebagai budaya sehari-hari" pesan bapak kepala sekolah.

Wejangan-wejangan dari para orang tua SMP tersebut saya endapkan selalu dan mulai saya aplikasikan sebagai 'bayaran' suatu perbaikan diri.
Perjalanan dari kampung ke Jakarta berasa lega meskipun ada air mata namun hati terus bersholawat.

Dan keajaiban itu kembali terjadi.....

-------------------------
Dibayarpun tidak, dihargai belum tentu, dicaci bahkan menjadi sapaan harian. Lantas kenapa masih bersikukuh menjadi relawan?
Bukan bayaran yang menjadi harga, bukan penghargaan dari orang lain yang dicari, bukan cacian yang membuat kita lantas menjadi sendiri. Kenapa bersikukuh menjadi relawan, karena keajaiban bersamanya.


Depok, 14 Februari 2016


Sayap kecil

Monday, 11 January 2016

@anropika Akun Baru di Instagram

Alhamdulillah, InsyaAllah berkah.


Beberapa pekan yang lalu saya (baru) membuat akun saya di instagram @anropika.
Harapan saya semoga akun tersebut bisa menjadi wadah berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada para teman untuk berbagi dan menyambung silaturahim.

Silakan bagi teman yang ingin menambahan @anropika sebagai teman di instagram.

Salam,

sayap kecil

Jangan Lupa Bahagia

Jangan lupa bahagia..
😊
Saya percaya meskipun kelihatannya sulit untuk dipecahkan namun seringkali kenyataan lebih indah jika dihadapi. Dunia imajinasi memang menghibur, namun hanya tenggelam didalamnya tak baik karena bisa-bisa malah menyakitkan.


Hallo sayap kecilku, apa kabar?
lama aku tak melukiskan kata disayapmu. Kini sembari aku ingin mengabarkan bahwa aku bahagia, aku ingin memberikan energi baru untukmu.


Jangan lupa bahagia. 😊

Taman Bahagia, Garut 31 Desember 2015




Bagaimana untuk selanjutnya?

Bagaimana untuk selanjutnya?

'Hibernasi' selama ini yang aku jalani menjadi sebuah renungan dan masa mengendapkan segala yang aku jalani. Ketulusan dan niat untuk menggapai ridho-Nya selalu terlaksana, itulah harapanku. Apalagi dunia jahiliyah masa kini sangat menggerus nilai kebaikan. Lingkunganku terdiri dari berbagai macam, mengatakan idealisme masing-masing dan menganggapnya menjadi sebuah kebenaran. Aku berkelana dan tanpa mengurangi rasa menghargai dan menghormati perbedaan. Sempat terbesit dalam pikiran untuk meninggalkan semua. Namun, aku percaya damai akan menjadi lebih indah. Mereka adalah sahabat saya, namun kita memiliki sudut pandang dalam meyakini Tuhan masing-masing.

Dalam diam aku berusaha memberikan rasa cintaku kepada sesama dengan adil

Bagaimana untuk selanjutnya

Jakarta, 12 Januari 2016

Friday, 27 November 2015

Dream and Make it Happen!


Kalau kita bisa mencintai sejuta umat, kenapa kita hanya memilih satu?
Dari GMB saya belajar tak perlu menunggu berlebih tuk berbagi. Berbagi itu bagaikan cermin yang memberikan refleksi dan wujud rasa syukur sehingga kebahagiaan selalu menyertai
-Anisa N. Ropika, Gerakan Mari Berbagi 2015- 


Berasal dari desa kecil yang berada di Magetan. Di masa kecilnya sungai menjadi tempat mencuci dan kebun menjadi tempat mencari kayu olehnya. Dari nasib yang dirasakan semasa kecil dia bertekad untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Rasa takut sering kali menghantuinya, namun keberaniannya lebih besar sehingga dia tetap melangkah. 

Keingintahuan yang begitu dalam mendamparkan dia ke ibukota. Besar impian untuk mengarungi dan mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun semua tidak akan terjadi kecuali kita memulai dari diri sendiri. 

Bagaimana mengenali diri sendiri? 

Diri kita tidak bisa terbentuk begitu saja tanpa kita yang membentuk. Salah satu komponen penting yang membentuk diri kita yaitu orang-orang disekeliling kita. Jika lingkungan kita kurang baik menurut kita, maka tugas kita untuk memberi warna. Bukan saatnya kita maki-maki dan selalu beralasan diri kita tidak bisa berkembang karena lingkungan kita, namun saatnya kita bergerak mengikuti suara hati dan melangkah mencari solusi. Jika kita renungkan lebih dalam, tugas dan amanah kita sebagai pemuda sangat besar. Generasi kedepan ditentukan oleh kombinasi antara tangan, hati dan pikiran kita. Tentunya akan terjadi perubahan yang lebih baik jika kita mau menghargai dan berbagi dalam perbedaan. Kebaikan sekecil apapun akan memberi makna jika kita melakukannya dengan cara yang baik. 



GMB (Gerakan Mari Berbagi) memiliki serangkaian kegiatan meliputi YA (Youth Adventure) dan YLF (Youth Leaders Forum). Rangkaian kegiatan ini diikuti oleh 50 pemuda dari Sabang sampai Merauke. Benar kata orang bijak, bahwa pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman di GMB memberikan energi positif. Bagaimana tidak, kita ditantang dari Semarang ke Jakarta dengan menggunakan uang hanya Rp.100,000 saja yang disitu letak tantangan kita melawan hambatan dan melatih diri untuk peka juga responsif terhadap lingkungan lingkungan sekitar. Perjalanan itu kami sebut dengan YA.

YA saya di GMB ditemani oleh kak Burhan pemuda asal Pati yang kuliah di Universitas Paramadina dan Ivan asal Jakarta yang kuliah di Universitas Surya. Rute perjalanan kami dari Semarang-Kendal-Brebes-Jakarta. Berbekal dengan uang sekian rupiah dan membawa ransel yang cukup berat kami berangkat menuju Kendal menggunakan transportasi bus. Setibanya di Kendal sekitar pukul 21.00 dan hujan. Kemudian kami berteduh sejenak. Usai hujan sedikit reda kami melanjutkan untuk mencari makan. Bekal kami otomatis berkurang. Kemudian kami menjual baju dan kalender di alun-alun Kendal juga mengamen di sekitar alun-alun. Kami ngamen menggunakan lagu-lagu daerah. Tak menyangka ketika kita ngamen kita dipertemukan oleh ibu yang baik hati memberika kita tambahan bekal yang sangat membantu. 

"Saya memiliki anak seumuran kalian, tapi belum tentu anak saya mau melakukan kegiatan seperti ini. Ini ada bekal untuk kalian ke Jakarta dan kartu nama saya jika kalian ke Semarang, silakan mampir" kata ibu itu. 

Jujur, awalnya kami minder ketika ngamen karena alun-alun sepi usai hujan. Seketika mendengar tanggapan ibu tersebut kami terharu dan semakin semangat. Bergegas kami memesan kereta dengan bekal pemberian ibu itu dari Brebes ke Jakarta. Kemudian kami bermalam di masjid alun-alun Kendal. Bersyukur bersama dua teman saya itu, saya perempuan sendiri diantara tim namun saya merasa terjaga dalam perjalanan. 

Pagi hari setelah kami bermalam di masjid alun-alun, sebagai ucap terimakasih kami membersihkan masjid tersebut. Para warga yang datang ke masjid menanyakan asal kami, tentunya kami memperkenalkan GMB kepada para warga tersebut. Ketika waktu makan kami harus memastikan semua perut terisi karena dalam perjalanan kita harus saling menjaga agar tidak sakit. Berhemat bekal bukan berarti harus menyakiti diri untuk tidak makan. Kemudian untuk menambah bekal kita ngamen lagi sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Brebes. 

Perjalanan ke Brebes kami lanjutkan menggunakan bus. Saya yang pegang uang selama perjalanan, kemudian saya sadar uang untuk bayar bus kurang. Akhirnya saya negosiasi agar diberikan potongan harga dan alhamdulillah kami dapat potongan harga ke Brebes. 

Tepatnya di stasiun Brebes kami turun dari bus, kemudian ada pemuda yang tiba-tiba mendatangi. 
"Kalian mau berbagi apa emang? Hei kamu yang cewek biasanya cewek jago menjelaskan. Emang kamu mau berbagi apa?" Pemuda itu bertanya dengan nada tinggi. Sontak saya kaget, awalnya saya mau acuh saja karena saya tak suka dengan cara dia bertanya. Kemudian sejanak konflik batin dari diri, mungkin saya kali ini harus belajar untuk lebih sabar meladeni orang. Mungkin bawaan lapar jadi inginnya marah. 

Tak berpikir lama saya menjelaskan dengan kenalan terlebih dahulu kemudian menjelaskan dari mana kami dan mau kemana kami. Sedikit perdebatan mengenai konotasi dalam berbagi yang tertera jelas dalam kaos yang kami kenakan. Dengan konkrit kami menjelaskan perjalanan kami dan alasan kami melakukan hal-hal kecil dalam perjalanan. 

Kami pun harus melanjutkan perjalanan dan misi di Brebes hingga kami kemudian berpamitan kepada kedua pemuda itu. 

Ketika keluar dari stasiun, apa yang terjadi? Salah pemuda itu mengejar kita dan mengeluarkan makanan dari dalam tasnya untuk kami. Telur asin asli Brebes yang seharusnya dibawa pemuda itu pergi diberikan ke kami. Dari awal yang saya ingin marah sekarang saya merasakan hikmah ketika kita berpikir positif dan mengalahkan diri sendiri. Menjadi pribadi yang ulet, telaten, sabar menjadi pembelajaran saya selanjutnya. 
Alhamdulillah.. 
Perjalanan masih berlanjut yaitu kita keliling alun-alun Brebes. Pada siang hari kita mampir ke warung makan kemudian kita diberi nasi dengan porsi yang mengenyangkan dan dengan harga yang murah. Selanjutnya kami ngamen dan pada malam harinya ada bapak-bapak yang membelikan kami nasi goreng. Di sekitar alun-alun Brebes banyak pengupas bawang di depan kios, kami bergegas turun tangan untuk membantu mereka. Hal kecil bisa kita bagikan kapan saja dan dimana saja. 

Setelah bermalam di masjid alun-alun, perjalann kami lanjutkan ke Jakarta menggunakan kereta api. Setibanya di Jakarta kami melanjutkan serangkaian acara yang mendatangkan para inspiring leaders dalam YLF. 

YLF 2015 dilaksanakan di PP-PON Cibubur selama 7 hari. Kegiatan ini mendatangkan banyak Inspiring Leader dari dalam maupun luar negeri yang dari pengalaman mereka dapatkan kita bisa belajar. Acara YA-YLF akhirnya ditutup dengan culture perfomance mengundang beberapa tamu dari luar forum. 
Selanjutnya, bagaimana pasca YA-YLF?? 
Selama kita mampu menjaga hubungan dengan baik, konektivitas akan tetap terjalin. Dari pengalaman yang menajdi guru terbaik, selanjutnya kita harus membagikan pengalaman tersebut ke sekitar kita. Melanjutkan asa dan cita tuk menjadi diri yang lebih baik. 
GMB pun juga mengadakan homestay ke beberapa negara seperti Belanda, Australia dan Jepang.


So, Will you be the next GMB-ers??? 
DREAM and MAKE it Happen!


Salam, 

Pika

Friday, 20 November 2015

(Katanya) Jembatan Cinta


Assalamu'alaikum.. 
Saya mau bercerita nih sedikit tentang pengalaman pertama berkujung ke pulau tidung, kepulauan seribu pada hari minggu 15 November 2015. 
Sehari berkeliling pulau tidung cukup memberikan warna dan hiburan bagi saya diamping harus menjalankan kegiatan survei kegiatan volunteering disini. Bersama sahabat saya bernama mba Yus yang kebetulan warga lokal, kami berkeliling menggunakan sepeda. 

Nah, para sahabat tau ngga di foto saya itu namanya tempat apa? Yaps, di jembatan cinta pulau tidung. Unik ya, selain jembatan cinta di pulau tidung juga ada jembatan galau. wahhhh... 
Kata sahabat saya dahulu jembatan ini belum sekokoh sekarang lohh, masi berbahan kayu yang menjadikan jembatan semakin etnik. Kemudian konon katanya menurut yang saya baca di gapura sebelum menapaki jembatan cinta ini, dahulu ada dua sejoli yang berjalan melewati jembatan ini kemudian cintanya abadi. 
Percaya? 
hehe.. tergantung pendapat masing-masing ya :D Yang jelas saya pribadi suka jembatan cinta karena jembatannya panjang ketika dilewati sehingga kita bisa melihat pemandangan laut yang sangat indah. 
Ayoo ke ibukota dan berkunjung ke pulau tidung. Selagi masih bisa mari nikmati pesona Indonesia

Wednesday, 18 November 2015

D.U.I.T (Do'a, Usaha, Ikhtiar, Tawakal)

Alhamdulillah, saya kembali menulis di blog untuk berbagi.. Semoga apa yang menjadi curahan hati saya bisa menjadi pembelajaran untuk semua.


Dalam QS. Alam Nasyroh ayat 4 dan 5 Allah menyampaikan dan sangat tegas bahwa
sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.
Berulang kali saya renungi dan saya ilhami, cerna dan pahami 2 ayat itu sangat lugas dan jelas. Dalam ayat itu memberikan refleksi dan pengingat bagi saya untuk tidak membuang waktu mengeluh saja apalagi ketika dikritik. Kritikan yang membuat kita berkembang.


saya semester 3, posisi saat ini selain menjadi mahasiswa antropologi, saya freelancer menulis juga volunteer aktif di komunitas dan organisas kepemudaan juga saat ini sedang belajar untuk start-up business.
Ada beberapa kegalauan sering mengecam saya, masalah duniawi, ketika networking dan manage good relation ke para kawan2. Sedih sekali ketika hingga sekarang beasiswa saya belum cair. Sudah saya urus berulang kali l, bolak-balik rektorat-bank untuk meminta surat pencairan namun belum juga cair. Nasib kosan masih belum lunas. Sering saya merasakan suatu 'sendiri' dalam ngejalanin semuanya. Disaat yang sama harus profesional. Tiba-tiba di kamar nangis dan berasa capek batin. Minta ke orang tua, mendengarkan kabar dan suaranya saja sudah cukup, gak tega saya minta ke orang tua. Bahkan seharusnya saya yang memberi ke orang tua. Namun saat ini belum mampu. Kapasitas saya belum menjangkau. Mudah2an secepatnya dengan start-up business yang akan menjadi prioritas ini dapat mengayomi semua, keluarga juga kegiatan pengabdian.


Ketika lagi saya pulang dari bank dan ternyata beasiswa belum cair, saya membaca ayat dari alam nasyroh tersebut. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. #StopGalau and do something.
Kembali ke prinsip dan pedoman hidup menjadikan hidup lebih tenang dan kegalauan terobati.
Namun dari hal ini tetap InsyaAllah tidak menyurutkan saya dalam berbagi cinta, ya saat ini setiap hari jum'at saya mengunjungi adik asuh, adik asuh saya dia sangat sempurna meskipun fisiknya tidak seperti kita yang normal. Kegiatan ini kembali mengingatkan saya ke adik2 YPAC Malang ketika kegiatan community service dan sekarang memang Allah mengatur segala skenario untuk mempertemukan saya kepada mereka. Mereka mengajarkan saya bersyukur, mereka adik2 saya.


semoga kedepan, segala kegiatan kita barokah dan menjadi amal jariyah kita.